Screencapture of life

Mar 05

Ps : shmily

I Don’t Have So Much Time to Tell Him. I Mean “aku tidak mau mengganggu waktunya lagi”

Apakah ada orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk melakukan hal-hal bodoh dan tidak penting bersama saya? Seperti mengunjungi museum, atau sekedar pergi ke taman kota untuk duduk lalu berbicara sambil meminum es teh manis?

Because he’s gone.. connotation..

Katanya teater di Taman Ismail Marzuki lagi bagus bagusnya bulan ini.. Pertunjukan seni dan musik all night longnya Taman Suropati juga.. Liat sunset aja deh kalo gitu.. Aah :’)

Brain : “Come on pit, that’s nonsense.. Ngebosenin dan ga penting, mana ada orang lain yang mau nemenin.. zzzz emang lu nya aja seleranya aneh aneh.. lagian capek juga.. Jakarta jauh bro”

Heart : “Ngebosenin? Ga penting? Music is beautiful thing. Teater juga. Matahari? God.. What do you mean orang lain? Dasar otak ga punya otak. He loves me. Bukan orang lain!”

Brain : “Then if he is not orang lain, why you post this stupid idea on tumblr? Bilang aja langsung!”

Heart : “I don’t have so much time to tell him. Lagian aku tidak mau mengganggu waktunya lagi”

Brain : “…”

Heart : ” I’m being desperate of changing all nonsense things to become important.. Aku tidak tahu lagi caranya.. Aku menyerah.. Aku kira semua yang dilakukan bersama secara otomatis menjadi penting.. Ternyata tidak.. Maksudnya tidak lagi.. Karena dulu hal hal seperti itu tidak menjadi masalah.. Menyenangkan :) “

Mar 04

Untuk kamu yang terlalu menyayangiku

Untuk kamu yang terlalu menyayangiku

Setiap satu kata kasar yang terucap dari bibir ini yang ditujukan padamu, aku menampar diriku sendiri satu kali. Karena aku tahu kamu tidak akan melakukan hal itu kepadaku. Kamu terlalu menyayangiku bukan?


Setiap kali aku merasa kesal karena diacuhkan, aku akan marah kepadamu lalu mendiamkan kamu selama beberapa hari. Lalu aku menyakiti diri sendiri dengan menangis. Karena aku tahu kamu tidak akan bisa balik mengacuhkan aku. Kamu terlalu menyayangiku bukan?


Setiap kali aku merasa sangat kesepian dan menyedihkan, aku menginginkan keberadaanmu di sampingku. Namun aku acapkali tidak sanggup untuk meminta secara langsung, lalu aku berceloteh dengan (sok) riang dan (sok) bahagia dengan memintamu makan malam bersama. Namun seringkali (sialnya) kamu telah makan bersama teman temanmu. Lagian malam pun sudah terlalu larut, kamu pasti akan memintaku untuk segera tidur agar tidak sakit. Kamu terlalu menyayangiku bukan?


Setiap kali aku mengalami masa sulit, aku tidak sanggup bercerita kepadamu. Aku takut waktu yang disediakan Tuhan untuk kita bersama hanya sebentar, jadi aku tidak akan merusaknya dengan cerita menyedihkan hidupku. Ketika kita bersama aku akan seperti biasanya, tertawa riang, melucu (dalam hati menangis, menyedihkan). Tapi kamu lebih banyak diam dan meminta pulang. Mungkin kamu juga sedang mengalami masa sulit dan tidak mau merusak mood aku yang sedang (terlihat) bahagia. Kamu terlalu menyayangiku bukan?


Setiap kali aku merasa kamu sangat sulit untuk berada di sampingku disaat aku paling membutuhkanmu, aku tidak tahu lagi, mungkin suatu saat aku akan ditinggalkan karena kamu terlalu menyayangiku..

Atau sebenarnya aku disini hanya menunggu untuk ditinggalkan?

PS : shmily

Sep 15

“Orang tuh ada yang alergi seafood, ada yang engga. Kalo lu tetep ngasih dia makan ikan laut, ya gatel-gatel. Gitu juga sama komentar. Ada yang alergi ada yang engga.”

Jun 21

Sing a Song

Lewat Sungai

Call Name

Apr 26

Hello (at)dinahhh18 . This is Another Absurd Love Letter for Youuu

Hello my sweet..

Like I said you are too sweet.. Too young to come in this community with too much old and elder person than you.. You just, how old are you Nah? 19? God.. Please take care my friend.. She’s just too young..

Hahaha I’m sorry Nah, but in fact, you in 19, gave me a lot of lesson to face any problems. To face any people with a lot of face on their face (hah? ini naooon).

Simply but not easy. You made that prespective to me. Simple banget kan ya Nah buat ngadepin masalah apa apa juga? Masalah seberat apapun bakal lewat. Ketelen waktu. As simply as it. But process? Who knows? Hati orang ga ada yang tau.. Kadang diri sendiri aja gatau perasaan sendiri. Simply but not easy. Thanks for gave me and still give me and I hope you are giving me a lot of lessons in this beautiful world. Padahal lu ga pernah ngerasa ngajarin gue kan Nah? But for surely really really truuuuuuly you made it.

Dinah yang ngerasa aneh tapi cantik..

Keep beautiful.. And act beautifully..

Aneh itu unik, antik.. Barang yang antik lebih mahal :’)

Selama masih bahagia ngeliatin daun ketiup angin doang (itu gue. hahahaha), ga ada yang nandingin nikmatnya Nah..

Please stay back on your peacefully heart, ungrowing brain because you born on 1994, and the most simply mind you have. Being free is amazing right? :’)

                                         From : Fitria (siapa sih yang manggil piti piti?)

Terima kasih masih mau temenan sama aku yang buncit dan moody-an ini ya Nah.. Cioooom :*

Mar 08

[video]

Mar 02

Point of View

Lisa


Aku sedang bertepuk tangan di siang hari ini. Di bawah terik matahari kota Bogor. Aku tetap suka Matahari yang terik, karena dengan begitu aku tidak perlu menggunakan pakaian bau apek untuk bekerja. Bajuku sedikit. Tidak boleh tidak segera dicuci terlalu lama. Bukannya aku mempermasalahkan bau apek sih, tetapi menurut pengalaman ku selama ini bau apek yang ditimbulkan dari baju ku membuat pendapatan ku menurun. Nanti aku ceritakan.

Oh iya kembali lagi ke awal. Aku sedang bertepuk tangan ya? Tidak, aku bukan sedang menonton pertunjukan opera atau kabaret yang memukau sehingga aku harus bertepuk tangan. Aku sedang mengamen di angkot 03 jurusan Bubulak-Baranang Siang. Setahuku sekarang menunjukkan pukul 1 siang. Itu pun aku tahu dari jam tangan yang dikenakan seseorang yang aku tebak sih seorang mahasiswi. Dia sedang membaca buku sambil memegang telefon genggam-yang aku tebak sih mahal-sambil sesekali melihat alat komunikasi kotaknya itu, sambil sesekali tersenyum, sambil sesekali melamun, kemudian melanjutkan membaca. Ah aku memang anak kecil terlalu banyak ingin tahu. Kakak itu sedang membaca apa sih? Tersenyum untuk apa? Apa yang dia fikirkan sehingga terkadang dia melamun? Apa yang mesti difikirkan oleh seorang mahasiswi cantik ber-telefon genggam mahal dan terlihat pintar itu sih? Pasti dia tidak perlu memikirkan akan dipukul oleh “Emak” (aku memanggil Ibuku dengan sebutan itu) jika uang hasil pendapatan mengamen kurang lima ratus rupiah saja. Iya lima ratus rupiah. Ah lima ratus rupiah mungkin digunakan oleh Kakak mahasiswi itu hanya untuk kerokan. Atau jika terjatuh di lantai ya hanya disapu saja, kemudian dibuang ke tempat sampah. Dia juga terlihat tidak perlu memikirkan cuaca Bogor yang kadang panas lalu kemudian tiba-tiba hujan deras. Pakaian Kakaknya pasti banyak dan bagus. Tidak seperti aku yang hanya memiliki tiga buah kaos belel dan dua buah celana selutut. Aku memiliki satu pasang pakaian bagus sih, kata Emak persiapan jika ada acara santunan yang diharuskan para gelandangan seperti aku tidak boleh terlihat “kotor” di depan pemberi santunan. Misalnya seperti tahun lalu aku diajak oleh teman seperjuangan (maksud aku sesama gelandangan) pergi ke rumah salah satu artis yang bertempat tinggal di Bogor. Itu lho, artis yang selalu berdandan tebal. Aku tidak tahu namanya, Eh bukan, sebenarnya aku tidak peduli namanya siapa. Atau aku tidak punya waktu untuk mengingat namanya? Ah aku terlalu sibuk. Lagian kata siapa sih gelandangan itu pengangguran? Kami itu, para gelandangan, setiap hari sangat sibuk asal kalian tahu. Kami sibuk bekerja. Bekerja untuk bisa makan. Berjalan jauh. Berlari mengejar angkot. Berpeluh sambil bernyanyi. Entah satu hari berapa kali  aku menyanyikan lagu yang sama. Atau mungkin aku tidak bernyanyi? Tapi berteriak atau mungkin bergumam tidak jelas? Habisnya hampir tidak pernah aku melihat para penumpang angkot terlihat senang melihat penampilanku ini. Apalagi kalau bajuku bau apek. Mereka seperti serentak menutup hidung lalu menatapku jijik. Padahal sekali-sekali aku ingin deh berteriak di depan para penumpang angkot itu ketika kejadian Bau Baju Apek ini terjadi “AKU CUMA PUNYA BAJU 3 SAMA CELANA 2 TAU !! BOGOR HUJAN TERUS ! BAJU AKU ENGGA KERING !” Hanya sesekali saja aku bertemu dengan beberapa penumpAng angkot yang tersenyum melihatku atau sekedar bertanya “Nama Kamu siapa dek?”. Aku ingat itu hanya terjadi sekali selama 7 tahun aku hidup di dunia ini.

Hidup? Aku tidak tahu apa artinya. Yang aku tahu hidup itu bekerja. Tapi kadang-kadang aku melihat beberapa orang yang tidak bekerja tetapi tetap hidup. Kalian tau kan, itu lho maksud aku orang-orang yang bekerja dengan hanya duduk-duduk saja dan terkadang tertidur walaupun disorot kamera dan dilihat jutaan rakyat Indonesia. Mereka duduk kemudian tertidur lalu diantarkan pulang ke rumah dengan mobil super nyaman. Rumahnya pun super mewah. Rumah aku sih super bau. Bukan aku tidak bersyukur, tapi justru aku bersyukur karena masih bisa mencium segala jenis aroma. Tetangga aku, Diah, dia seumuran denganku memiliki hidung yang menyatu dengan langit-langit mulut. Kata orang namanya sumbing. Dia tidak tahu kalau perkampungan kami bau. Dia tidak bisa mencium aroma apapun. Bagian-tidak dapat mencium perkampungan kami yang bau- Diah dapat bersyukur. Tapi dia melewatkan harumnya wangi pisang goreng buatan Teh Sutri. Surga deh pokoknya wanginya.

Jika aku tahu hidup adalah bekerja dan aku tahu hal tersebut jauh-jauh hari sebelum aku dilahirkan oleh Emak, aku mungkin akan menolak dilahirkan ke dunia. Aku di tempat asalku saja bersama Tuhan. Atau kalau bisa aku memilih dilahirkan oleh Ibu Rita saja. Dia memiliki rumah dengan kamar mandi sendiri, tidak seperti aku yang kamar mandinya bantaran kali. Aku takut terjatuh lalu terbawa aliran air sungai. Katanya mati itu menyakitkan. Hiii aku takut. Atau aku memohon kepada Tuhan dengan meminta keringanan lain seperti aku mau hidup dan aku pasti rajin bekerja, asalkan aku melihat orang lain di sekitarku melakukan hal yang sama. Tidak. Aku bukannya mengajak kalian semua hidup susah sepertiku. Aku hanya ingin kalian sama-sama bekerja keras sepertiku. Walaupun dengan cara berbeda. 

Supaya kalian dapat menghargai setiap hal kecil yang kalian miliki. Supaya kalian menghormati setiap butir nasi yang tersedia di piring makan siang kalian. Asalkan kalian tahu, sahabat aku, Nia, dia minggu kemarin meninggal karena kekurangan gizi. Aku sih tidak sependapat. Nia tidak kekurangan gizi, itu terlalu keren. Nia kelaparan. Aku saksinya. Dan aku tidak bisa membantu apa-apa. Keadaan Nia tidak jauh berbeda sepertiku. Jika aku membantu Nia, aku yang kelaparan. Aku yang meninggal. Hidup adalah bekerja. Bekerja untuk mendapatkan banyak waktu. Aku tidak tahu waktu untuk apa. Yang aku tahu, mati itu menyakitkan. Jadi yang jelas aku bukannya ingin hidup, tapi aku takut mati. Bingung bukan? Aku juga bingung.

Ah satu lagu sudah selesai aku nyanyikan. Bermodalkan alat musik pemberian Tuhan-telapak tangan aku sendiri maksudnya-dan suara cempreng, aku telah memberi pertunjukan kepada tiga orang penumpang angkot ini. Dan hasilnya adalah Nol Rupiah. Yah mau bagaimana lagi, mungkin karena memang penumpang tersebut bosan setiap saat selalu saja ada pengamen di angkot mereka. Pengamen yang suaranya justru membuat mereka pusing. AKu sih sadar diri sajalah. Toh suara aku juga jelek. Lagian aku tidak punya waktu untuk mengasah kemampuan menyanyiku. Aku harus mengasuh 3 adik, membantu Emak menjadi kuli panggul sayur di pasar, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sperti mencuci baju dan mencuci piring (baju keluargaKu tidak disetrika), dan hal-hal lain yang aku lakukan untuk menyambung hidup. Atau ketiga penumpang tersebut memang tidak memiliki uang receh. Kenapa sih pengamen sepertiku selalu identik dengan uang receh? Aku tuh sudah membutuhkan uang kertas. Yang berwarna cerah. Bukan lagi uang receh. 

Eh maafkan aku uang receh, berkat kamu aku bisa membeli garam untuk lauk makan malam nanti. Hehe maaf ya. Aku tidak jadi pura-pura tidak membutuhkan uang receh deh.

Kemudian aku turun dari angkot berwarna hijau itu. Sekilas terfikirkan bagaimana rasanya jika hidup seperti kakak mahasiswi cantik yang ada di angkot barusan. Menyenangkan sepertinya. Aku terngadah, untuk kesekian kalinya menatap langit Bogor sambil menyipitkan mata karena teriknya matahari seraya berharap. Sederhana. “Semoga sore nanti tidak hujan..”

Cerita 2 menit di dalam angkot Bubulak-Baranang Siang

Feb 17

For many times we fight, getting angry, and feeling everything just couldn’t be enough. But for the end, “us” is always become a word to reflection two things. You and I,
i love you dear..

For many times we fight, getting angry, and feeling everything just couldn’t be enough. But for the end, “us” is always become a word to reflection two things. You and I,

i love you dear..

Feb 10

Why I Call This “Screencapture Of Life”

Screencapture of Life.

Kelucuan suatu tulisan tuh bakal nambah seiring semakin tua tulisan itu ada. Sama ketika gue tertawa terbahak-bahak ngeliat isi diary gue pas jaman SD dulu. Hahaha kalo tahun 1997 udah populer kata “galau”, mungkin gue adalah bocah SD tergalau waktu itu. Sama ketika gw senyum-senyum ga jelas ketika gw ngeliat gambar yang dibuat pake tangan ketika gw umur 3 atau 4 tahun. And you MUST know, gw selalu ngegambar kuburan and candy white (tau lah itu lhoo hiiy pokoknya serem). Hahahahahahaha. Dan gue SEKARANG takuuut banget sama yang kayak gituan (nanti foto gambar-gambar waktu gue kecil gw upload deh). Dan umur 3 tahun, gue udah bisa nulis kata-kata (otomatis gue udah bisa baca dong. hahahahaha pamer ya). Huruf d jadi b. Huruf S jadi angka 2. Entah gue belajar darimana gue gatau. Gue waktu itu coret-coret di buku pengajian nyokap gue yang sampulnya gambar Desi Ratnasari. Hahahahahaha. Kadang-kadang gue nulis atau ngegambar di tembok rumah (bocah badung). Tapi ilang gara-gara temboknya selalu dicat ulang sama orang rumah :’(

Time run so fast. Itu yang ngebuat gue seneng banget nulis. Itu yang ngebuat gue mikir mesti ada “screencapture” di hidup gue. Disamping lu bisa nge-screencapture hidup lu pake foto, tapi nulis lebih bermakna. Ngeliat foto yang udah lama, sama tulisan yang udah lama juga, feelnya lebih dapet di tulisan. Nulis juga ga perlu banyak pengorbanan. Lewat tulisan, lu kayak ngerasa punya sesuatu yang bisa ngertiin elu. Kertas ga pernah ngeluh. Keyboard notebook lu juga selalu siap sedia nemenin elu.

Hidup ini terlalu berharga kalo dilewatin gitu aja. Banyak suka. Banyak duka. Kadang manusia lupa. Sering malah. Lewat tulisan kita bisa belajar. Gue banyak belajar.

Every screen on your life, capture it.

Dec 21

Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah

“Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan.”
Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah

““Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah sudah lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya, “Ia adalah cinta sejatiku!”” — “Kupu-Kupu Monarch” - Tere Liye (via horehorere)

Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah

“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gilau kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita bersarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.”
Tere Liye, Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah